Pendidikan orang dewasa

 Pendidikan Orang Dewasa (Andragogi)


PENGERTIAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA ( POD )

Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul “The Adult Learner, Aneglected Species “ mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah “ Andragogi “ makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.

Pendidikan orang dewasa atau dengan istilah lain Andragogi berasal dari bahasa Yunani dari kata aner artinya orang dewasa, dan agogos artinya memimpin. Maka secara harfiah andragogi berarti seni dalam mengajar orang dewasa, berlawanan dengan paedagogi yang berati seni dan pengetahuan mengajar anak.(Kartini Kartono, 1997;23). 

Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak, maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditunjukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak di anggap dapat  diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.

Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang dan berkesinambungan.

Dalam hal ini, terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangkan dalam aktivitas kegiatan di lapangan, pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dan setiap individu yang bersangkutan. Begitu pula pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa baik pria maupun wanita, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing.


KARAKTERISTIK BELAJAR ORANG DEWASA

Orang dewasa dalam belajar mempunyai ciri atau karakteristik berbeda dengan anak –anak antara lain karakteristiknya sebagai berikut:

1. Pembelajaran lebih mengarah ke suatu proses pendewasaan, seseorang akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri, dan memerlukan pengarahan diri walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung.

2. Karena prinsip utama adalah memperoleh pemahaman dan kematangan diri untuk bisa survive, maka pembelajaran yang lebih utama menggunakan eksperimen, diskusi, pemecahan masalah, latihan, simulasi dan praktek lapangan.

3. Orang dewasa akan siap belajar jika materi latihannya sesuai dengan apa yang ia rasakan sangat penting dalam memecahkan masalah kehidupannya, oleh karena itu menciptakan kondisi belajar, alat-alat, serta prosedur akan menjadikan orang dewasa siap belajar. Dengan kata lain program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik

4. Pengembangan kemampuan di orientasikan belajar terpusat kepada kegiatannya. Dengan kata lain cara menyusun pelajaran berdasarkan kemampuan-kemampuan apa atau penampilan yang bagaimana yang diharapkan ada pada peserta didik (Tisnowati Tamat, 1985 :20-22 )


KEBUTUHAN BELAJAR ORANG DEWASA

Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangkan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan. Dalam hal ini, terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangkan dalam aktivitas kegiatan di lapangan. Pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Tambahan pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa, baik pria maupun wanita, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing. Dengan demikian hal itu dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran orang dewasa yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar bersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil dari adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya.

Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas. Dalam hal pendidikan orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dibekali juga dengan rasa percaya diri yang kuat dalam pribadinya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungan. Perubahan perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih ke arah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih masih diperlukannya sebagai penyempurnaan hidupnya.


PRINSIP-PRINSIP MENGAJAR ORANG DEWASA

Pertumbuan orang dewasa dimulai pertengahan masa remaja (adolescence) sampai dewasa, di mana setiap individu tidak hanya memiliki kecenderungan tumbuh kearah menggerakkan diri sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya sebagai pribadi yang mandiri yang memiliki identitas diri. Dengan begitu orang dewasa tidak menginginkan orang memandangnya apalagi memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Dia mengharapkan pengakuan orang lain akan otonomi dirinya, dan dijamin ketentramannya untuk menjaga identitas dirinya dengan penolakan dan ketidaksenangan akan setiap usaha orang lain untuk menekan, memaksa, dan manipulasi tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya. Tidak seperti anak-anak yang beberapa tingkatan masih menjadi objek pengawasan, pengendalian orang lain yaitu pengawasan dan pengendalian orang dewasa yang berada di sekeliling, terhadap dirinya.

Prinsip-prinsip mengajar orang dewasa merupakan bagian pokok dalam pendidikan orang dewasa adalah sebagai berikut:

1. Peserta didik hendaknya mengerti dan menyetujui terhadap tujuan suatu kegiatan pendidikan/ kursus.

2. Peserta didik hendaknya mau untuk belajar

3. Menciptakan situasi yang bersahabat dan tidak formal

4. Penataan ruangan hendaknya menyenangkan para peserta

5. Peserta didik hendaknya berperan serta mempunyai tanggungjawab terhadap jalanya proses belajar

6. Belajar itu hendaknya erat hubungannya dengan pengalaman peserta didik

7. Fasilitator hendaknya mengenal benar akan materi pembelajarannya

8. Perhatikanlah kesungguhan dan ketekunan dalam mengajar

9. Peserta didik hendaknya dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuannya

10. Peserta didik hendaknya sadar akan kemajuan dirinya dan memiliki rasa kepuasan

11. Gunakan metode belajar yang bervariasi

12. Fasilitator hendaknya merasa turut tumbuh dalam proses belajar mengajar

13. Pendidikan hendaknya memiliki rencana yang fleksibel dalam proses belajar mengajar


METODE PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Dalam pembelajaran orang dewasa banyak metode yang diterapkan. Untuk memberhasilkan pembelajaran semacam ini, apapun metode yang diterapkan seharusnya mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran, yakni agar peserta dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang bermutu.

Merupakan suatu kekeliruan besar bilamana dalam hal ini, pembimbing secara kurang wajar menetapkan pemanfaatan metode hanya karena faktor pertimbangannya sendiri yakni menggunakan metode yang dianggapnya paling mudah, atau hanya disebabkan karena keinginannya dikagumi oleh peserta di kelas itu ataupun mungkin ada kecenderungannya hanya menguasai satu metode tertentu saja.

Penetapan pemilihan metode seharusnya guru mempertimbangkan aspek tujuan yang ingin dicapai, yang dalam hal ini mengacu pada garis besar program pengajaran yang dibagi dalam dua jenis:

1. Rancangan proses untuk mendorong orang dewasa mampu menata dan mengisi pengalaman baru dengan memedomani masa lampau yang pernah dialami, misalnya dengan latihan keterampilan, melalui tanya jawab, wawancara, konsultasi, latihan kepekaan, dan lain-lain, sehingga mampu memberi wawasan baru pada masing-masing individu untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahuinya.

2. Proses pembelajaran yang dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer pengetahuan baru, pengalaman baru, keterampilan baru, untuk mendorong masing-masing individu orang dewasa dapat meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkannya, apa yang menjadi kebutuhannya, keterampilan yang diperlukannya, misalnya belajar menggunakan program komputer yang dibutuhkan di tempat ia bekerja.

Sejalan dengan itu, orang dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih baik lagi kalau di samping itu ia dapat melihat pula, dan makin efektif lagi kalau dapat juga mengerjakan.

Fungsi bicara hanya sedikit terjadi pada waktu tanya jawab. Untuk metode diskusi bicara dan mendengarkan adalah seimbang. Dalam pendidikan dengan cara demonstrasi, peserta sekaligus mendengar, melihat dan berbicara. Pada saat latihan praktis peserta dapat mendengar, berbicara, melihat dan mengerjakan sekaligus, sehingga dapat diperkirakan akan menjadi paling efektif.


IMPLIKASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

Mengingat orang dewasa memiliki karakteristik sebagaimana uraian di atas, maka dalam proses pendidikan ada beberapa hal yang ditempuh dalam pelaksanaannya antara lain :

1. Menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, antara lain; a) pengaturan lingkungan fisik seperti penataan peralatan disesuaikan dengan kondisi orang dewasa, alat peraga dengar dan liat disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa, Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial, b) pengaturan lingkungan sosial dan psikologis, lingkungan ini hendaknya membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan di dukung, mengembangkan suasana bersahabat, informal, santai, membangun semangat kebersamaan

2. Diagnosis kebutuhan belajar, melibatkan stakeholder yang terkena langsung dampak pelaksanaan pendidikannya, membangun model yang diharapkan, menyediakan pengalaman yang dibutuhkan

3. Proses Perencanaan, libatkan peserta didik dalam menyusun rencana pelatihan,

4. Memformulasikan tujuan, yakni tentang tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik

5. Mengembangkan model umum, pendidikan orang dewasa lebih banyak melalui diskusi, baik kelompok kecil maupun kelompok besar

6. Menetapkan materi dan teknik pembelajarannya, materi lebih ditekankan pada pengalaman nyata, disesuaikan dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis, metode dan teknik yang dipilih harus menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta didik, lebih bersifat partisipatif (Lunandi, 1987 ; 34).


Daftar Pustaka

Sunhaji, S. (2013). Konsep pendidikan orang dewasa. Jurnal Kependidikan, 1(1), 1-11.

Budiwan, J. (2018). Pendidikan Orang Dewasa (Andragogy). QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 10(02).

Alfurqan, A., Rahman, R., & Rezi, M. (2017). Pendidikan Orang Dewasa Yang Dikembangkan Rasullullah. Islam Transformatif: Journal of Islamic Studies, 1(1), 15-29.


Komentar