Perancangan produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Perancangan produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)


Pendidikan nonformal ada yang berasal dari warga masyarakat yang memiliki keterbatasan untuk dilayani oleh pendidikan formal. Pada umumnya mereka adalah masyarakat miskin, putus sekolah, buta huruf, terletak di pedalaman terpencil yang kesulitan untuk mengakses sekolah, dan berbagai permasalahan lainnya. Melihat berbagai karakteristik tersebut mungkin pikiran pertama yang akan muncul adalah sikap apatis.

Bagaimana mungkin TIK yang identik sebagai sebuah teknologi yang mahal dan rumit dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan yang justru ditujukan untuk warga masyarakat yang berasal dari kalangan ekonomi lemah dengan tingkat pendidikan rendah? 

Sebenarnya kesalahan utama justru terletak pada paradigma bahwa TIK adalah teknologi mahal dan rumit. TIK selalu ditempatkan sebagai sesuatu obyek yang canggih, mahal, dan memerlukan keahlian khusus untuk menggunakannya. 

TIK belum dianggap sebagai sebuah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Orang yang bisa mengoperasikan komputer masih mendapat kelas tersendiri dan dianggap terpelajar. 

Saat ini sudah selayaknya TIK dianggap sebagai sebuah kebutuhan hidup sehari-hari bagi masyarakat. Jangan lagi menganggap komputer sebagai barang mewah dan rumit tetapi sudah saatnya dianggap sama umumnya dengan sepeda motor ataupun televisi yang semua orang berhak menggunakannya. Pada dasarnya telepon seluler adalah salah satu bentuk TIK yang paling umum digunakan di masyarakat dan saat ini tingkat penetrasinya di berbagai lapisan masyarakat sangat luar biasa.

Yang harus dirintis adalah TIK dengan karakteristik sebagai berikut: 

1. TIK yang mampu meningkatkan harkat, martabat dan kepercayaan diri peserta didik

2. TIK yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat

3. Sarana dan prasarana TIK haruslah low-cost

4. Konten Pembelajaran dan Sumber Daya Manusia yang Memadai

Dengan berbagai karakteristik seperti di atas, memang tampak bahwa penggunaan TIK dalam pendidikan nonformal menuntut berbagai penyesuaian dan adaptasi dibandingkan pada pendidikan formal. Usaha keras diperlukan karena karakteristik pendidikan nonformal sendiri yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, membuat munculnya berbagai hambatan dan tantangan dalam menerapkan TIK. 

Hanya dengan kerja keras dan kolaborasi dari pemerintah, lembaga pendidikan, para pendidik dan tenaga kependidikan serta segenap pelaku TIK dan masyarakat sendiri tentunya barulah dapat dicapai sebuah kondisi ideal bagi penerapan TIK dalam pendidikan.

Lalu bagaimana cara perancangan TIK di dalam pendidikan nonformal ini?

Ya tentu kita akan menciptakan suatu rancangan dari cerminan karakteristik di seperti yang sudah dijelaskan di atas 

Pertama, kita harus mengidentifikasi masalah apa yang sedang diragukan oleh warga belajar

Kedua, mengidentifikasi kebutuhan yang sesuai dengan warga belajar

Ketiga, menganalisis kebutuhan warga belajar hal apa yg cocok dengan kebutuhannya

Keempat, mulai merancang perencanaan kebutuhan warga belajar

Dan terakhir mengerjakan rancangan dengan tujuan perancangan yang sudah menjadi kebutuhan warga belajar untuk digunakan atau diaplikasikan di dalam pembelajaran untuk jenjang pendidikan nonformal.


Komentar

Posting Komentar